Tuesday, November 29, 2016

Peranan Tauhid Dalam Kehidupan Seorang Muslim



BAB I
PENDAHULUAN
1.        Latar Belakang
       Agama islam dikenal sebagai agama yang cinta damai. Tidak hanya itu, ajaran-ajaran pada agama islam selalu mengajarkan kepada kebaikan. Berkata jujur, menolong sesama, terbiasa untuk bersih, dll. Maka bukan hal aneh apabila ajaran-ajaran agama islam banyak dicontoh oleh agama lain. Hal ini disebabkan ajaran islam menimbulkan efek positif bagi orang yang mengamalkannya. Tidak hanya bagi individu tapi bahkan untuk halayak.
       Akan tetapi, kerap kita melihat masyarakat islam (katanya) tidak mengamalkan apa yang menjadi ajaran agamanya. Mereka cenderung mengabaikan perintah Allah dan Rasul-Nya sedang dimana non-muslim melaksanakannya. Dengan begini bisa juga dikatakan bahwa non-uslim lebih islam daripada muslim itu sendiri. Seperti contoh dalam berkehidupan bertetangga. Banyak tetangga yang merasa tidak memiliki tetangga. Sebab, hampir tidak pernah bertegur sapa. Padahal islam sangat menganjurkan untuk bersilaturrahim bahkan memuliakan tetangga.
       Lantas kemudian timbul pertanyaan, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah karena islam para muslim itu sebatas islam KTP? Ataukah ada faktor lain? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan karena ketauhidan mereka telah berkurang. Sebab apabila mereka memiliki tauhid yang kuat maka semua perintah Allah dan Rasul-Nya pasti akan dilaksanakan. Oleh sebab itu makalah ini akan membahas tentang peran tauhid bagi manusia.

2.        Rumusan Masalah
       Dari uraian di atas maka diambil permasalahan sebagai berikut:
a.       Apakah peran tauhid bagi kehidupan?
b.      Bagaimana tauhid mempengaruhi kehidupan?
c.       Kenapa perilaku muslim tidak islam?
3.        Tujuan Penulisan
       Dari rumusan masalah di atas maka ditarik tujuan dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
a.       Untuk mengetahui peran tauhid bagi kehidupan manusia.
b.      Untuk mengetahui bagaimana tauhid mempengaruhi kehidupan.
c.       Untuk mengetahui bagaimana perilaku muslim yang sebenarnya.




BAB II
PEMBAHASAN

            Iman tidak bisa memiliki arti pasif, tasdiq, menerima apa yang dikatakan orang sebagai benar.[1] Harun Nasution (1919:147) menjelaskan bahwa iman bisa memiliki beberapa arti bagi golongan tertentu. Ada yang menafsirkan sebagai ma’rifah, ‘amal, melaksanakan perintah wajib, hingga menjauhi dosa-dosa besar.
Peran tauhid dalam kehidupan muslim pastinya sangat banyak. Namun sebelum membahas hal tersebut, perlu diketahui apa itu tauhid. Tauhid menurut bahasa adalah meng-Esakan. Sedangkan menurut syariat adalah meyakini keesaan Allah. Adapun yang disebut ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang akidah atau kepercayaan kepada Allah dengan didasarkan pada dalil-dalil yang benar. Tidak ada yang menyamainya dan tak ada padanan bagi-Nya. Mustahil ada yang mampu menyamai-Nya. Dalilnya dari firman-firman Allah, di samping dalil-dalil aqliyah:
“Dia adalah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
(QS 42:11)
Tauhid adalah salah satu hal terpenting yang harus difahami, dimiliki dan dipegang teguh  oleh umat islam, karena dengan tauhid seseorang dapat mengerti apa arti dari kehidupan yang diajalanni.
Tauhid mempunyai peran besar terhadap hidup manusia, karena dengan tauhidlah manusia dapat memahami arti dan tujuan hidup mereka. Jadi dalam pembahasan mengenai hal tersebut, bisa dikatakan bahwa tauhid mencakup keimanan kita terhadap Allah SWT. Sementara Iman dalam Islam merupakan unsur utama dan pokok dalam keberagaman seorang Muslim karena iman akan menjadi landasan dan akar bagi unsur-unsur keberagaman yang lain. Iman kepada Allah adalah sesuatu yang pertama dan terpenting dalam sistem aqidah dan amal dalam Islam. Sebab keyakinan-keyakinan lainnya merupakan cabang dari pokok tersebut. Karena menurut kami, tauhid dan iman artinya sama-sama percaya dan meng-Esa-kan Allah, maka peran tauhid dalam kehidupan muslim juga berkaitan dengan iman seorang muslim. Ada banyak hikmah dari iman kita kepada Allah atau boleh dikatakan hikmah dari kita meng-Esa-kan Allah, antara lain adalah :

1.    Luas Pandangan
Kelebihan utama kita dalam mengimani Allah adalah meluaskan pandangan manusia ke arah kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Orang yang beriman membawa pandangannya keluar dari ruang sempit itu dan merentangkannya ke seluruh alam semesta. Ruang sempit itu adalah ruangan dimana manusia hanya memandang dunia untuk dirinya sendiri. Namun apabila ia melihat alam dengan pandangan yang luas, maka pandangan tentang alam tersebut akan dihubungkan dengan Allah. Betapa kekuasaan Allah benar-benar bisa dirasakan dan dilihat langsung oleh manusia dengan rasa bersyukur yang sangat. Apabila manusia benar-benar merasakan kehadiran Allah berdasar alam semesta, maka dia tidak hanya memandang Allah hanya sebagai pencipta dan pemberi rezeki bagi diri, keluarga, dan bangsanya semesta, melainkan bagi langit, bumi, dan alam semesta. Manusia tidak melihat bahwa hanya dirinya sendiri yang menyembah dan menganggukkan kepala secara taat kepada Allah, melainkan juga segala sesuatu di langit dan di bumi. Seperti yang disebutkan dalam QS.Al-Isra’ ayat 44 yang mempunyai arti:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”

2.    Besar dan Mulia Jiwa
Iman kepada Allah ini mengangkat manusia dari kerendahan, kehinaan, dan kekotoran diri menuju kedudukan yang bersih dan mulia. Orang yang percaya pada Allah pasti yakin bahwa apapun yang dimintai pertolongan untuk memenuhi kebutuhannya tidak sedikitpun mengurangi kebutuhannya pada Allah, maka hal ini bisa dikatakan bahwa manusia bisa memiliki jiwa yang mulia dan berbesar hati dalam segala hal, karena keyakinnya bahwa hanya Allah-lah yang akan menolong kehidupan mereka di dunia dan di akhirat. Seperti yang telah disebutkan dalam QS.Al-Baqarah ayat 107 yang artinya :
“Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Tidak ada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.”

3.    Rendah Hati dan Sopan
Dengan beriman kepada Allah seseorang akan merasakan kebesaran jiwa. Kebesaran ini berbeda dengan kebesaran yang disebabkan oleh kesombongan oleh kekuatan. Kebesaran kebesaran ini bukanlah yang melahirkan kemuliaan jiwa melainkan  jiwa melahirkan kemuliaan semu dan batil karena kesombongan, kocongkakan dan keangkuhan. Oleh karena itu kebesaran yang pertama ini adalah kebesaran yang merupakan akibat dari pemahaman seseorang atas hubungan dirinya dan hubungan seluruh isi alam ini dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi  Agung, secara baik, sempurna dan tetap.[2]
“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (Q.S. 16: 53)

Dengan demikian apabila seseorang menerima nikmat ataupun musibah dia akan merasa bahwa itu adalah datangnya dari Allah yang disebabkan oleh imannya. Dia tidak akan menganggukkan kepala, mengulurkan tangan meminta pertolongan, meminta rizki, mengagungkan dan menggantungkan harapannya kepada apapun dan siapapun selain Allah.

4.        Pembatalan angan-angan dusta
Hikmah hubungannya dengan Allah antara lain dapat membatalkan angan-angan dan khayalan yang bersifat dusta. Namun apabila seorang manusia tidak meng-Esa-kan Allah, maka manusia akan menyekutukan Allah. Hal itulah yang akan menyebabkan manusia berangan-angan, yang menjadikan sebuah angan kebatilan yang dapat menjerumuskan manusia ke jalan yang sesat. Sudah tertulis dalam Al Qur’an bahwa Allah sama sekali tidak memberikan tempat bagi angan-angan dusta dan khayalan batil itu.

5.        Optimisme dan ketentraman hati
Iman kepada Allah menjadikan manusia berharap dan yakin bahwa seluruh nikamt di dunia ini hanya Allah yang mampu memberikannya. Manusia akan selalu merasa aman dan tentram, karena keyakinannya kepada Allah bahwa hanya Allah-lah yang mampu memberikan mereka jalan yang sebenar-benarnya jalan. Manusia juga yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan manusia selamanya tersesat dalam lubang yang salah. Allah pasti akan memberikan ampunan dan pertolongan-Nya kepada manusia. Seperti yang disebutkan dalam QS.An-Nisa ayat 110 yang artinya adalah :
“Dan barang siapapun mengerjakan kejahatan dan menganiaya diri, kemudian ia mohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

6.        Sabar dan Tawakal
Apabila manusia ingin memperoleh sesuatu, pasti ia akan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Namun disinilah letak perbedaannya, seorang muslim yang selalu percaya dan yakin dengan adanya Allah, maka dalam melakukan segala hal maka dia akan pasrahkan hasilnya kepada Allah atau istilahnya bertawakal kepada Allah. Namun apabila usaha yang dilakukan manusia tidak menemui sebuah hasil, maka ia akan bersabar dalam menerima keputusan yang diberikan Allah padanya. Selain itu sabar bisa dikaitkan dengan setiap hal yang menimpa manusia, missal bencana, penderitaan, kemudharatan dan kerugian dunia. Manusia akan melihat itu karena Allah.
  “Katakanlah: Semuanya (dating) dari sisi Allah” (QS.An-Nisa ayat 78)
Namun sesungguhnya kekuatan dan kesabaran berada diatas kekuatan manusia. Kekuatan sabar dan tawakal adalah yang telah meneguhkan para Nabi dalam menghadapi segala rintangan dan penderitaan dunia, serta membulatkan tekad untuk mengatasi berbagai tantangan dunia tanpa faktor-faktor material yang lahiriah[3].
7.        Rasa puas dan cukup
Salah satu manfaat tauhid dalam kehidupan muslim adalah dapat menjadikan muslim tersebut selalu merasa cukup dalam hal apapun. Menjadikan manusia terhindar dari kerasukan, ketamakan, kedendaman, keirian dan kebencian serta perasaan-perasaan jelek dan hinaan yang mendorong manusia menempuh perbuatan buruk. Karena sesungguhnya segala nikmat di dunia ini hanya Allah yang mampu memberikannya.
“Katakanlah : Sesungguhnya karunia itu ditangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapapun yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi maha Mengetahui. Allah menentukan Rahmat-Nya kepada siapapun ya[4]ng dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS.Ali Imran ayat 73-74)

Selain itu dalam Al Qur’an juga disebutkan bahwa Allah-lah yang menjadi perbedaan dan kelebihan dan hamba-hamba-Nya dalam hal rizki, kemewahan, harta, kekuatan, ketampanan, ketenaran, dan pemberian-pemberian lainnya yang berlaku dalam alam ini.
“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian lain dalam hal rizki” (QS.An-Nahl ayat 71)

8.        Perbaikan akhlak dan penataan kerja
Bertauhid kepada Allah seperti yang sudah dijelaskan pada halaman sebelumnya adalah meng-Esa-kan Allah dan menjadikan Allah sebagai acuan hidup muslim. Dalam hal ini melahirkan masyarakat yang bertanggung jawab, membersihkan jiwa mereka, membangun kerja mereka di atas rasa takut kepada Allah dalam keadaan terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, memperbaiki pola hubungan antara sebagian dengan sebagian lain dan menjadikan mereka tunduk terhadap undang-undang hukum Allah[5].  Misal manusia atau muslim akan selalu menjaga hubungan baik dengan manusia lain, karena Allah telah memperintahkan manusia untuk mempererat tali persaudaraan sesama muslim. Selain itu dalam melakukan segala hal mereka akan selalu optimal.

9.        Sebagai pondasi keimanan.
Dengan menjadikan tauhid sebagai pegangan dalam hidup, serta merealisasikan perintah yang ada, maka akan terwujud suatu kebahagiaan serta kedamaian hidup yang tak terhingga. Karena telah di tancapkan dalam hati bahwa tidak ada yang memiliki kekuatan maupun kekuasaan selain Illahirabbi.[6]

.
BAB III
KESIMPULAN

            Tauhid adalah meyakini ke-Esa-an Allah SWT. Percaya dan yakin bahwa apa yang terjadi di kehidupan manusia di seluruh muka bumi adalah kebesaran Allah. Dan hanya Allah yang patut disembah. Peran tauhid dalam kehidupan muslim antara lain :
1.      Meluaskan pandangan muslim tentang kehadirat Allah
2.      Membesarkan hati muslim dan menjadikan muslim sebagai jiwa yang mulia
3.      Rendah hati dan sopan
4.      Menjauhkan muslim dari angan-angan dusta yang hanya akan menjadikan manusia menyekutukan Allah
5.      Menjadikan muslim selalu optimis dalam hal apapun dan menjadikan hatinya tentram
6.      Sabar dan tawakal, karena hanya Allah yang mampu memberikan hasil yang terbaik untuk muslim
7.      Rasa puas dan cukup, karena hanya Allah-lah yang memiliki banyak kenikmatan yang tidak dimiliki manusia
8.      Perbaikan akhlak dan penataan kerja
9.      Serta sebagai fondasi iman


[1] Harun Nasution. Teologi Islam.(Jakarta: Penerbit Salemba, 1919). Hal 147
[2] Abdul ‘Ala Mauludi, dkk. Hakekat Tauhid (Jombang: Daarul ulum Press, 1990). h. 19
[3] Ibid., hal.28.
[4] Ibid., hal.31.
[5] Ibis., hal.32.
[6]Nur Fatimah, dkk. “Peran dan Fungsi Tauhid Dalam Membangun Pribadi Individu Dan Masyarakatmakalah pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga




DAFTAR PUSTAKA

  A’la Maududi, Abdul,dkk. 1990. Hakekat Tauhid Dalam Kehidupan Muslim. Darul Ulum Press  
Nasution Harun. 1919. Teologi Islam. Jakarta: UI-Press.
Nur Fatimah, dkk. (2014). Peran dan Fungsi Tauhid Dalam Membangun Pribadi Individu Dan Masyarakat. Makalah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. UIN Sunan Kalijaga
http://rifa-jogja.blogspot.co.id/2015/01/peran-dan-fungsi-tauhid-dalam-membangun.html

No comments:

Post a Comment